Akademisi Unisa Yogyakarta Bicara Etika dan Regulasi Kecerdasan Buatan
- Administrator
- Selasa, 28 Oktober 2025 16:05
- 36 Lihat
- Opini
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) telah menjadi topik yang hangat dibahas dalam beberapa tahun terakhir. AI telah membawa banyak manfaat dalam berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga industri. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat juga risiko dan tantangan yang perlu diatasi.
Esi Putri Silmina, pengajar Fakultas Teknologi Informasi Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), menekankan pentingnya regulasi dan etika dalam pemanfaatan AI. Menurutnya, regulasi terkait penggunaan AI di Indonesia sudah mulai diterapkan, namun masih belum mendalam dan luas cakupannya. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Nomor 27 tahun 2022 merupakan salah satu contoh regulasi yang mengatur perlindungan data pribadi dalam konteks penggunaan AI dan media sosial.
Dampak sosial AI juga perlu menjadi perhatian. Kekhawatiran masyarakat tentang hilangnya pekerjaan akibat otomasi merupakan salah satu contoh. Namun, Esi menekankan bahwa AI seharusnya tidak sepenuhnya menggantikan, melainkan membantu manusia dalam bekerja agar lebih mudah dan praktis. Unsur manusia tetap diperlukan untuk mengendalikan AI, mengingat teknologi ini masih memiliki potensi kesalahan.
Risiko bias dan ketidakadilan dalam AI juga perlu diwaspadai. Jika data yang dimasukkan ke dalam sistem AI mengandung bias atau kesalahan, maka hasil yang dihasilkan juga tidak akan akurat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan dan evaluasi terus-menerus terhadap sistem AI.
Dalam konteks penggunaan AI untuk mengedit foto atau konten lainnya, Esi menekankan bahwa hal tersebut boleh dilakukan selama tidak merugikan orang lain. Namun, jika digunakan untuk menjatuhkan atau menyalahgunakan data seseorang, maka hal tersebut harus dihindari.
Mahasiswa Teknologi Informasi Unisa Yogyakarta sudah banyak menggunakan AI, terutama untuk mengerjakan tugas. Esi mengingatkan agar mahasiswa tidak 100 persen bergantung pada jawaban AI, melainkan menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu. Mahasiswa harus berperan sebagai verifikator, melakukan 'cross-check' terhadap jawaban AI.
Dalam era AI yang semakin maju, perlu dilakukan manajemen risiko dan pengawasan terus-menerus. AI harus digunakan untuk membantu, bukan untuk merugikan atau menggantikan manusia sepenuhnya. Dengan demikian, kita dapat menjaga keseimbangan antara kemajuan dan risiko dalam pemanfaatan AI.
Foto: Dok. Unisa Yogyakarta