Bagaimana Pendatang di Yogyakarta Mengatasi Culture Shock? Ratna Yunita Setiyani Berbagi Pengalaman

  • Administrator
  • Selasa, 11 November 2025 07:50
  • 41 Lihat
  • Opini

Pendatang di Yogyakarta umumnya mengalami tiga fase adaptasi budaya atau culture shock sebelum benar-benar nyaman dengan lingkungan baru. Fase-fase ini meliputi honeymoon, krisis, dan recovery, dengan durasi yang berbeda-beda untuk setiap individu.

Fase pertama, honeymoon, adalah saat pendatang merasa sangat senang karena mimpinya kuliah di Yogyakarta tercapai. Namun, euforia ini umumnya hanya bertahan sekitar dua hingga tiga minggu. "Fase honeymoon itu paling bertahan dua minggu. Di era media sosial sekarang, biasanya mereka posting di Instagram atau TikTok dengan latarbelakang kampus, menunjukkan kebanggaan kuliah di Jogja. Tapi setelah itu, mulai homesick," kata Ratna Yunita Setiyani, Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Fase kedua, krisis, adalah saat pendatang mulai mengalami kekecewaan karena realitas tidak sesuai ekspektasi. Berbagai hal, mulai dari perbedaan makanan, harga, hingga cara bersosialisasi, membuat mereka merasa tidak nyaman. "Di fase ini, mereka yang disebut anak rantau harus kuat. Banyak hal yang mengecewakan, seperti perbedaan rasa makanan. Kalau anak Sumatera terbiasa dengan makanan pedas yang 'nyos', di Jogja semuanya manis, bahkan sambalnya pun manis," katanya.

Perbedaan budaya komunikasi juga sering menjadi kendala. Gaya komunikasi langsung masyarakat Sumatera berbeda dengan gaya komunikasi tidak langsung masyarakat Jawa Yogyakarta. "Orang Sumatera kalau ngomong 'to the point', pedas dan tegas seperti topi mereka yang runcing. Kalau orang Jawa, khususnya Jogja, cara menyampaikan sesuatu lebih halus dan tidak langsung, seperti blankon yang ada gendelannya di belakang," katanya.

Fase terakhir, recovery, adalah saat pendatang mulai bisa menerima dan memahami perbedaan budaya. Mereka mulai berpikir terbuka, dan tidak lagi menolak mentah-mentah kebiasaan setempat. "Di fase recovery, mereka sudah mulai bisa melihat dengan pikiran terbuka. 'Oke lah memang beda, Jogja istimewanya mungkin di sini,' begitu pikirnya. Kalau sudah dapat 'anchor' atau jangkar untuk bertahan, mereka bisa adaptasi dengan baik," katanya.

Ratna menekankan pentingnya daya tahan terhadap stres bagi para pendatang. Ia menyebut, tujuan utama para pendatang ke Yogyakarta adalah mendapatkan pendidikan berkualitas, sehingga mereka harus menguatkan hati dan diri. Pemahaman bahasa tubuh juga penting dalam komunikasi lintas budaya, karena bahasa tubuh dapat mengekspresikan ketidaksetujuan meskipun secara verbal orang Yogyakarta berbicara halus.

Foto: Unisayogya.ac.id

culture shock

Komentar

0 Komentar