Ngaji Budaya: Ruang Dialog Generasi Muda untuk Merawat Kebhinekaan
- Administrator
- Jumat, 21 November 2025 09:53
- 31 Lihat
- Sorotan
Ngaji Budaya yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Minggu, 16 November berhasil mengumpulkan lebih dari seribu peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, penyuluh agama, anggota majelis taklim, dan masyarakat umum. Acara ini dirancang untuk mendekatkan generasi muda pada ruang dialog agama dan budaya, serta memperkuat identitas kebangsaan dan keragaman.
Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam Kemenag, Wida Sukmawati, menyatakan kehadiran peserta yang luar biasa menjadi bukti bahwa anak-anak muda membutuhkan ruang keagamaan yang ekspresif, humanis, dan dekat dengan realitas keseharian mereka. Mayoritas peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, menunjukkan bahwa generasi muda menaruh minat besar pada ruang edukasi yang menggabungkan agama dan budaya tanpa menciptakan sekat yang kaku.
Penyelenggaraan Ngaji Budaya berangkat dari kebutuhan menghadirkan pendekatan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda kini lebih responsif terhadap media ekspresif seperti seni dan musik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas kebangsaan, merawat keragaman, serta menghindarkan masyarakat dari pola pikir ekstrem.
Bagi banyak peserta, Ngaji Budaya bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi pengalaman yang memberi perspektif baru. Muhammad Robby, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengaku mendapatkan wawasan yang memperkaya cara pandangnya. “Ngaji Budaya memberi wawasan kepada saya bahwa doa, seni, dan tradisi bisa berjalan bersama. Saya pulang bukan hanya dengan ilmu baru, tetapi juga semangat untuk melestarikan budaya lokal dalam dakwah,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Joglalink.
Hal senada disampaikan Nur Husna, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menilai Ngaji Budaya menjadi ruang penting untuk merawat keterhubungan antara seni dan keagamaan. “Acara seperti ini penting. Kita belajar menjaga warisan budaya sambil berdialog soal agama tanpa menghakimi. Ini ruang yang membuat kita merasa aman untuk belajar dan berdiskusi,” kata Husna.
Ngaji Budaya diharapkan dapat menjadi contoh bagi kegiatan serupa di tempat lain, untuk memperkuat keragaman dan kebhinekaan di Indonesia. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang positif dan konstruktif dalam masyarakat.
Foto: IG @kemahasiswaan_uinsuka